Dalam sebuah kereta kelas ekonomi duduk berhadapan empat orang yang saling tidak mengenal. Ada seorang nenek-nenek yang sibuk mengunyah sirih. Di sebelahnya duduk seorang wanita muda, cantik dan sangat menggiurkan. Di depan mereka duduk seorang perwira ABRI dengan pakaian lengkap plus kumis melintang, sementara di sebelah si tentara duduk seorang pria muda yang berpenampilan sederhana dan terkesan pendiam.
Kereta memasuki sebuah terowongan, dan suasana di dalam kereta menjadi gelap. Tiba-tiba terdengar suara ciuman yang kemudian disusul dengan suara pipi di tampar.
Si nenek berkata dalam hati, “Kasian nih anak perawan di sebelahku. Jadi obyek pelecehan lelaki!”
Si gadis berkata dalam hati, “Kasian yang mencium nenek di sebelahku. Pasti di antara kedua lelaki di hadapanku ini salah cium. Biar rasa!”
Si tentara sambil mengusap pipinya berkata dalam hati, “Sial…! yang nyium siapa, yang kena tampar siapa… huh dasar sial.. tahu gitu mendingan aku cium duluan si cewek seksi ini.”
Si pemuda sederhana berkata dalam hati, “Hehehe kapan lagi bisa nampar tentara. Nggak tahu dia kalau aku mencium tangan sendiri, hahaha….”
Cermin insiden monas.
selamat buat FPI (dan AKKBB), dengan mengambil momentum kenaikan harga minyak dan kasus ahmadiyah. malah dianggap issue pengalihan bbm dan ketiadaan penegakan hukum. mana ada yang membahas tamparannya. sudah bukan pokok permasalahannya lagi. selamat.
& Komentar
15 Juni, 2008 pukul 4:55 pm
“Insiden monas”, but nenek story?
i dn undst
16 Juni, 2008 pukul 12:26 pm
mari mengail di air keruh
16 Juni, 2008 pukul 12:29 pm
tiada yang tidak patut diperjuangkan
bahkan juga ’sesat kita yang sadar’
yang punya alat produksi yang menguasai
apalagi manusia telah menjadi komoditi
20 Juni, 2008 pukul 3:57 am
cari selamat sendiri2
bentar lagi mo pemilu soale
7 Juli, 2008 pukul 9:47 pm
hi… hi… hi…
10 Juli, 2008 pukul 2:57 pm
Berkali – kali baca, dimana link ceritanya ….
29 Agustus, 2008 pukul 10:16 am
hahahahahaha