28 April, 2008

Alat Deteksi Kebohongan ala DPR

Humor : Alat Deteksi Kebohongan

Budi adalah seorang profesor penemu ulung, dia berhasil menciptakan robot yang bisa mendeteksi kebohongan, dia membuat robot itu sedemikian rupa sehingga ketika mendengarkan kebohongan, sang robot akan langsung menampar si pembohong itu…

Budi dengan bangga membawa robot itu ke ruang keluarga dan menunggu anaknya pulang…
tapi anaknya tak kunjung pulang…

Ditunggu-tunggu baru sore hari sang anak pulang…

“Kamu dari mana ? kok pulangnya telat” tanya si Budi
” Ada pelajaran tambahan pa” jawab sang anak

*PLAK* Sang robot menampar si anak…

“Nak, ini adalah robot ciptaan ayah, dia akan menampar siapapun yang berbohong..! sekarang katakan dengan jujur, kenapa pulangnya telat ??!”
“Maaf ayah.. aku habis menonton film di rumah teman…”

“Film apa?”
“Film Sinetron pak”

*PLAK*

“Ayo katakan dengan jujur film apa ??”
“Maaf Ayah… saya menonton film porno”

mendengar itu marahlah si Budi..

“Kamu itu yach … kecil-kecil uda nakal, mau jadi apa kamu nanti besar ?
kurang ajar kamu yach … bikin malu ajah…. perbuatan yang benar-benar memalukan..!!! papa waktu seumuran kamu gak pernah melakukan hal senakal kamu…!”

*PLAK* Budi ditampar sang robot

Suasana hening untuk beberapa saat…

Istri Budi kemudian masuk datang dan langsung berkata… “huh, sama aja kelakuannya, apel gak akan jatuh jauh dari pohonnya kan ? ya gimanapun juga dia anak Elo, jadi … “

*PLAK*

Sang robot menampar istri Budi sebelum sang istri sempat menyelesaikan kata2nya..

Dan semua terdiam…

Bahkan sebuah humor bisa menjadi cermin ..

DPR membuat KPK dan KPK menampar DPR..

26 April, 2008

Orang mati kok ngaku hidup

Seseorang yang sudah dianggap mati diusung oleh teman-temannya ke kuburan. Ketika peti sudah hampir dimasukkan ke liang lahat, orang yang sudah dianggap mati tadi tiba-tiba hidup kembali dan mulai memukul-mukul tutup peti.

Peti dibuka. Orang tersebut bangkit dan berkata “Apa yang kalian lakukan? Aku belum mati”.”Aku masih hidup !” teriaknya.

Orang-orang tertegun mendapati kenyataan itu. Sebagian heran, sebagian takjub. Ahirnya salah seorang dari pengantar jenasah itu berkata “Diam kamu orang mati. Para tabib dan imam telah menyatakan bahwa engkau sudah mati. Tidak mungkin orang pandai dan ulama seperti mereka bisa salah. Kamu hanya orang biasa. Tutup mulutmu dan bertingkahlah seperti orang mati.”

Maka peti ditutup kembali dan dia dimakamkan sebagaimana mestinya.

Cermin ini sedang memandang kita sekarang dan kita tidak menyadarinya.

keranda

Cermin itu ahmadiyah.